free html hit counter
Ghoorib.com | Sejarah Imam Syafi'i Mencari Ilmu dan Pertemuan dengan Imam Malik

Sejarah Imam Syafi’i Mencari Ilmu dan Pertemuan dengan Imam Malik

foto madinah zaman dulu

Imam kita Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i telah mengkhatamkan hafalan beliau ketika berumur 7 tahun. Beliau belajar ilmu qiraah Al-qur’an pada seorang guru ahli qira’ah di Mekkah bernama Syeikh Isma’il bin Qastantin.

Imam Syafi’i juga belajar terjemah dan tafsir Al-qur’an kepada para ulama-ulama Makkah, yang mana semua ulama Makkah itu mendapat sanad terjemah dan tafsir Al-quran dari seorang ahli tafsir dan penerjemah Al-qur’an bergelar Tarjumanul Qur’an yaitu Sayyidina Abillah bin ‘Abbas atau yang lebih sering diesebutkan Ibnu ‘Abbas.
Setelah selesai menghafal Al-qur’an dilengkapi dengan qira’ah dan tafsirnya, Imam Syafi’i melanjutkan menghafal hadits-hadits Rasulullah shalahu ‘alaihi wasallam.
Diriwayatkan dari murid Imam Syafi’i suatu waktu beliau pernah berkata bahwa beliau mengetahui semua makna kata dalam Al-qur’an kecuali dua kata yaitu (دَسَّاهَا) dan (وَأَبَّا).
Imam Syafi’i sudah sangat tertarik dengan bahasa Arab sejak kecil, sehingga disebutkan dalam sejarah  beliau sering berpergian ke desa-desa di jazirah arab pedalaman untuk mempelajari ilmu nahwu, sastra arab, syair, dan bahasa Arab asli ke pedalaman-pedalaman hingga 20 tahun lamanya.
Dari 20 tahun tersebut, Imam Syafi’i menghabiskan 10 tahun di suku Huzaila mempelajari bahasa Arab, karena sefasih-fasih bahasa Arab adalah bahasa Arabnya Bani Huzaila. Sehingga tidak heran walau Imam Syafi’i masih muda tapi beliau sangat ahli dalam bahasa Arab beserta syair-syairnya.
Tidak hanya sibuk dalam bidang keilmuan, ternyata Imam Syafi’i juga jago di bidang olahraga memanah, dan unggul di antara pemuda-pemuda yang lain, bahkan diriwayatkan bahwa kalau beliau melepaskan 10 anak panah, 9 anak panah pasti tepat sasaran.
Di Makkah, Imam Syafi’i sering keluar masuk mesjid untuk mendengar ilmu-ilmu yang disampaikan oleh ulama-ulama di berbagai bidang. Sekalipun beliau tidak memiliki biaya, sampai-sampai untuk membeli kertas yang akan digunakan untuk mencatat saja beliau tidak punya, sehingga beliau sering memungut tulang-tulang, tembikar, dan benda-benda lain untuk mencatat ilmu yang beliau dengarkan.
Sehingga dalam salah satu diwan Imam Syafi’i berkata ” Tidak akan sukses seseorang dalam mencari ilmu, kecuali ia mencarinya dalam keadaan sulit dan susah, sungguh untuk membeli kertas saja bagiku sangat sukar”.
Ketika Imam Syafi’i belum genap 15 tahun, guru beliau yang bernama Muslim bin Khalid Az-Zanji seorang ulama besar di Makkah dan mufti kota yang mulia tersebut memberi izin kepada Imam Syafi’i untuk mengeluarkan fatwa.
Sekalipun Imam Syafi’i yang belum genap berumur 20 tahun sudah menguasai ilmu Bahasa Arab, Fiqih dan tafsir, proses menuntut ilmu beliau tidak berhenti sampai disitu saja.
Pada masa itu semua ulama fiqih di jazirah Arab dan tempat-tempat lain selalu berusaha untuk pergi ke Madinah, karena di kota tersebut ada seorang ulama yang sangat disegani dan diperhitungkan yang bernama Malik bin Anas, tidak terkecuali dengan Imam Syafi’i radhiyallahu ‘anhu.
Imam malik memiliki majlis keilmuan di masjid nabawi yang selalu didatangi oleh berbagai ulama dari seluruh dunia. Imam Syafi’i sangat merindukan untuk berjumpa dengan Imam Malik yang populer itu.
Namun, sambil beliau mengumpulkan biaya untuk berangkat ke Madinah untuk bertemu dengan seseorang yang beliau rindukan, beliau terlebih dahulu mempelajari kitab karangan Imam Malik yang berjudul Muwattha’. Saking seringnya beliau menelaah kitab Imam Malik, beliau sampai menghafal seluruh isi dari kitab tersebut.
Singkat cerita, Imam Syafi’i kesampaian mengunjungi kota Nabi, dan berencana menemui Imam Malik untuk memungut ilmu darinya, namun kenyataannya Imam Malik sangat sulit untuk ditemui karena banyaknya orang yang hadir di majlis beliau.
Namun hal itu tidak membuat semangat dan tekad Imam Syafi’i luntur begitu saja, setelah berusah keras akhirnya Imam Syafi’i bisa juga mendapat posisi paling depan di dekat Imam Malik untuk mendengarkan ilmu-ilmu yang disampaikan oleh Imam Malik.
Ketika Imam Syafi’i sampai di shaf paling depan, Imam Malik langsung punya firasat istimewa karena Imam Malik menguasai Ilmu jiwa.
Terjadilah dialog antara Imam Malik dan Imam Syafi’i di pertemuan pertama tersebut. Apa isi dialognya?
Imam Malik berkata kepada Imam Syafi’i : ” Wahai Muhammad, bertaqwalah kamu kepada Allah dan jauhilah maksiat, dengan begitu kamu akan mendapat sesuatu keistimewaan, Sesungguhnya Allah telah menuangkan cahaya ke dalam hatimu, maka jangan engkau padamkan ia dengan maksiat”.
” Besok harim datanglah kembali, nanti akan ada yang akan membacakan kitabku kepadamu”. Tambah Imam Malik.
Imam Syafi’i pun menanggapinya: ” Wahai guru, aku bisa membaca sendiri kitabmu muwattha’ bahkan aku menghafalnya, ini kitabnya ada di tanganku”.
Imam Malik pun takjub, dan menyuruh Imam Syafi’i membacakan kepada majlis yang hadir. Karena bagusnya bacaan Imam Syafi’i dan lancarnya I’rob beliau, Imam Malik selalu meminta Imam Syafi’i untuk membacakan kitab Muwattha’ yang tebal tersebut di depan umum, hingga kitab itu khatam dibacakan dan di i’rob oleh Imam Syafi’i hanya dalam beberapa hari saja.
Pada hari Imam Syafi’i menamatkan bacaan kitab Muwattha’ karangan Imam Malik. Imam Malik berkata kepada jamaah yang hadir, ” Jika kalian mencari orang yang sukses dalam menuntut ilmu, inilah orangnya”, sambil mengisyaratka kepada Imam Syafi’i.
Setelah Imam Malik melihat langsung keilmuan Imam Syafi’i, Imam Malik menjadi sering berdiskusi dan sering menghabiskan waktu bersama dengan Imam Syafi’i untuk mengulik masalah-masalah ilmu fikih sebagaumana halnya guru dan murid.
Sehingga terjalinlah hubungan baik antara Imam Syafi’i dan guru beliau Imam Malik dalam persilatan ilmu fikih. Sampai-sampai Imam Malik memuji Imam Syafi’i dengan mengatakan ” Belum pernah datang kepadaku satupun dari bani quraisy yang lebih luas ilmunya melainkan pemuda ini”.
Di kesempatan yang lain, Imam Syafi’i juga memuji Imam Malik dengan berkata: ” Jika disebutkan nama-nama ulama, maka Imam Malik lah bintangnya. dan imam Malik sangat berjasa untukku”.
Tidak berhenti di Imam Malik di Madinah, Imam Syafi’i seperti biasanya selalu berpergian mencari ilmu ke negeri-negeri Islam, mencari fakta-fakta baru dalam ilmu fikih dan sering melakukan istiqra’ atau penelitian dalam bidang keilmuan.
Imam Syafi’i juga sering kembali ke Makkah pulang kepada ibu beliau untuk meminta nasihat dan do’a.
Pada tahun ke 10 Imam syafi’i tinggal di Madinah, guru beliau Imam Malik wafat.
Setelah kejadian itu, ibu Imam Syafi’i pun sudah mulai lemah dan sakit dan tidak bisa membiayai lagi beliau, sehingga Imam Syafi’i mulai mencari pekerjaan, tidak berapa lama beliau mendapat suatu pekerjaan dari kerajaan dan bertugas di Najran, negeri Yaman.
Dalam riwayat tidak disebutkan pekerjaan tersebut, akan tetapi pekerjaan imam Syafi’i di Najran adalah pekerjaan yang berhubungan dengan kerajaan dan merupakan sesuatu yang berada dalam lingkaran kekuasaan.
Di sela-sela beliau terus mencari ilmu dan menelaah masalah fikih beliau bekerja untuk penguasa di Yaman. Suatu waktu terjadilah suatu bala bagi Imam Syafi’i yaitu perselisihan beliau dengan penguasa Yaman, dan beliau pun difitnah dan dituduh, sehingga berita itu sampai ke telinga khalifah Harun Ar-Rasyid.
Imam Syafi’i pun dibawa ke Baghdad untuk di adili,
Bersambung…
artikel ini merupakan hasil terjemhan dari kitab Tashil Fathul Mu’in
BACA JUGA :  Bacaan Tasbih, Shalawat dan Do'a Shalat Tarawih

Check Also

Ghoorib.com | Puasa 1 Hari Sebelum Idul Adha: Manfaat, Tips, dan Hal yang Perlu Diperhatikan

Puasa 1 Hari Sebelum Idul Adha: Manfaat, Tips, dan Hal yang Perlu Diperhatikan

Idul Adha adalah salah satu hari raya besar dalam agama Islam. Pada hari yang penuh …

9 comments

  1. Ghoorib.com | Sejarah Imam Syafi

    I like the helpful info you provide in your articles. I will bookmark your blog and check again here regularly. I am quite certain I’ll learn many new stuff right here! Good luck for the next!

  2. Ghoorib.com | Sejarah Imam Syafi

    My brother suggested I might like this blog. He was entirely right. This post actually made my day. You can not imagine simply how much time I had spent for this information! Thanks!

  3. Ghoorib.com | Sejarah Imam Syafi

    Hi there very nice blog!! Guy .. Beautiful .. Wonderful .. I’ll bookmark your website and take the feeds also…I’m glad to find numerous useful information right here in the publish, we’d like develop more strategies on this regard, thanks for sharing.

  4. Ghoorib.com | Sejarah Imam Syafi

    Hi, Neat post. There’s a problem with your website in internet explorer, would check this… IE still is the market leader and a large portion of people will miss your magnificent writing because of this problem.

  5. Ghoorib.com | Sejarah Imam Syafi

    Simply desire to say your article is as astounding. The clearness in your post is simply excellent and i can assume you’re an expert on this subject. Well with your permission let me to grab your RSS feed to keep up to date with forthcoming post. Thanks a million and please keep up the gratifying work.

  6. Ghoorib.com | Sejarah Imam Syafi

    I simply couldn’t leave your site prior to suggesting that I really enjoyed the standard info a person supply on your visitors? Is gonna be again often to investigate cross-check new posts

  7. Ghoorib.com | Sejarah Imam Syafi

    I really appreciate this post. I’ve been looking all over for this! Thank goodness I found it on Bing. You have made my day! Thx again

  8. Ghoorib.com | Sejarah Imam Syafi

    Excellent beat ! I wish to apprentice whilst you amend your site, how could i subscribe for a blog site? The account helped me a acceptable deal. I were a little bit acquainted of this your broadcast provided bright clear idea

  9. Ghoorib.com | Sejarah Imam Syafi

    I like this blog so much, saved to bookmarks. “American soldiers must be turned into lambs and eating them is tolerated.” by Muammar Qaddafi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *